Manfaatkan ilmu karena itu akan mengikat keberkahan

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

BUKTI KEBENARAN ALQURAN TENTANG SEMUT






Salah satu mukjizat al-Qur’an di samping keindahan serta kecanggihan gaya bahasanya, adalah gagasan futuristiknya mengenai kebenaran ilmiah yang baru kemudian dapat dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern. Semakin maju perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka semakin terbukti lah kebenaran al-Qur’an. Itulah makanya Al-Kitab sedikitpun tdk dapat disejajarkan dgn kualitas super canggih al-Qur’an.

Sebuah contoh kecil konfirmasi ilmu pengetahuan terhadap kebenaran al-Qur’an dapat ditemukan pada An-Naml (27): 18 berikut:


حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِي النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;

Terjemahan ayat ini, merupakan terjemahan minimal untuk sekedar memperoleh pemahaman awal atau tekstual dari ayat ini. Namun jika dikaji lebih jauh dari disiplin ilmu Bahasa Arab, yang nota bene sangat dibutuhkan untuk memperoleh makna substansial dari setiap ayat al-Qur’an di samping ilmu-ilmu lainnya, maka dari ayat ini akan ditemukan sebuah isyarat ilmiah, yang luar biasanya telah 14 abad lampau disebutkan al-Qur’an namun baru pada abad 20 dapat dikonfirmasi oleh ilmu Pengetahuan, khususnya ilmu Biologi.


Secara sederhana dapat dijelaskan, dari sudut pandang bahasa Arab, sebenarnya ada distorsi penting dari terjemahan resmi (versi Depag) di atas, khususnya pada kalimat Qaalat namlatu (ﻧﻤﻠﺔ) yang diterjemahkan dgn : “berkatalah seekor semut”. Semestinya terjemahan lengkapnya adalah “(telah) berkata seekor semut betina”.


Mengapa demikian?


Karena kata namlatun (ﻧﻤﻠﺔ) menggunakan bentuk muannats (kata benda untuk jenis perempuan) dgn tanda ta’ marbuthah ( ة ) sehingga semut yang dimaksud dlm ayat ini

adalah semut betina. Itulah sebabnya kata kerja ﻗﺎﻞ yang mendahuluinya diberi akhiran ta’ maftuhah ( ت ) sebagai kata ganti untuk perempuan/betina merujuk pada dhamir ھي (Hiya) sehingga menjadi ﻗﺎﻟﺖ (berkata) sebagai pertanda bahwa yang berkata itu adalah “semut betina”.

Jadi kesimpulan pertama, semut yang dimaksud dlm ayat ini adalah “SEMUT BETINA”.


Selnjutnya, apakah yang dikatakan oleh “SEMUT BETINA” itu?


Jawabannya ada pada kalimat berikutnya:

يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“…Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”


SEMUT BETINA tersebut ternyata memerintahkan kepada semut2 yang lain untuk masuk ke dalam lobang mereka.


Bila demikian halnya, berarti semut betina mempunyai otoritas khusus atau kekuasaan sehingga ia dapat memerintahkan semut2 yang lain untuk melakukan sesuatu. Artinya dalam spesies semut, terdapat juga pemimpin yang memiliki otoritas dan kuasa untuk memerintah dan mengatur tata kehidupan mereka, dan ayat ini mengisyaratkan bahwa pemimpin dalam spesies semut itu adalah SEMUT BETINA, bukan semut jantan.


Karena betina, Kita sebut saja pemimpin semut ini sebagai “RATU SEMUT”


Pertanyaan berikutnya, Apa kata ilmu pengetahuan berkenaan dgn isyarat Al-Qur’an ini?


Ternyata, ilmu pengetahuan dlm hal ini biologi modern memberi konfirmasi bahwa pemimpin suatu entitas semut adalah seekor SEMUT BETINA, RATU.

(Sumber: Agus Purwanto, D.Sc., Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan, (Bandung: Mizan, 2008)

Betapa kecanggihan mukjizat ilmiah al-Qur’an , jauh mendahului perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. 14 abad yang lalu al-Qur’an sdh menegaskan bahwa pemimpin suatu komunitas semut adalah semut betina, tapi ilmu pengetahuan modern baru bisa menemukannya pada abad ke-20

SUMBER 
[Read More...]


PASTUR RUSIA : KAUM MUSLIM AKAN MEWARISI DUNIA INI





Seorang Pastur di Rusia mengakui, dalam sebuah Video yang tersebar di internet (lihat: video pengakuan pastur), bahwa masa depan adalah milik kaum muslimin, mereka akan mewarisi dunia ini dan mengisinya.”
Pastur Rusia tersebut menyebutkan bahwa alasan dibalik semua itu adalah karena ketekunan mereka dalam menyembah Allah sepenuhnya, ia mengatakan,”ketika melaksanakan Sholat Ied, Kaum Muslimin “meneror” lalu lintas dari lingkungan mereka, dan ribuan orang sujud merendah diri dihadapan Tuhannya.”
Pastur melanjutkan,”pemandangan ini yang telah hilang dari kita” dan kita tidak melihat kecuali hanya orang tua yang pergi ke gereja.”
Dalam pengakuannya tersebut, Pastur menceritakan seorang wanita Rusia bercerita tentang supir taksi beragama Muslim, ia mengatakan:”Supir taksi muslim tidak mengambil bayaran dari saya, dan ia mengatakan kepada saya: “anda seperti ibu saya dan seorang anak tidak mengambil dari ibunya sesuatu pun terutama ketika dia pergi ke tempat berdoa.” Sementara jika supir taksi kristen ia akan mengambil bayaran dan mengatakan:” ini sudah menjadi pekerjaan saya.”
Perlu dicatat bahwa jumlah muslim di Rusia  mencapai sekitar 20 juta jiwa, setelah kemerdekaan lima belas tahun yang lalu dari republik dari Uni Soviet, sedangkan di kota Moskow jumlah muslim telah mencapai satu juta jiwa.
 
[Read More...]


RELATIVISME DAN LIBERALISME AGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM



            Renaissance yang terjadi abad pertengahan di prancis menjadi tolok ukur perubahan tidak hanya untuk umat kristiani semata, namun juga berimbas kepada peradaban diluar itu. Renaissance yang berarti hidup kambali mengusung 3 pokok yang menjadi sumber fundamental akidah sekuler yang lahir setelahnya. 3 hal pokok tersebut adalah liberte, egalite dan freternite. Inilah titik pencerahan bangsa barat setelah sekian lama berada pada abad kegelapan / dark age (walaupun mereka lebih senang menyebutnya abad pertengahan). Pada masa ini pula, keabsolutan gereja sebagai wakil tuhan di dunia dikerdilkan, yang tersisa hanyalah kepercayaan manusia terhadap tuhan sebatas beribadah, pengakuan dosa, pernikahan dan kematian. Untuk urusan sosial politik, mereka lebih mengedepankan akal mereka untuk menciptakan sistem baru untuk menandingi sistem “Tuhan” yang telah gagal membawa umat manusia menuju kesejahteraan. Maka lahirlah akidah (keyakinan) sekuler yang inti ajarannya adalah memisahkan agama dari kehidupan.
            Melihat “keberhasilan” prancis, negara-negara tetangganya pun ikut mengambil langkah yang sama yaitu dikotomi agama dan negara. Pengaruh besar yang ditimbulkan bangsa barat ini tak hanya terjadi pada bidang industri saja, akan tetapi mempengaruhi mind set (pola pikir) mereka terhadap keyakinan dan agama mereka. Inilah awal mula terciptanya paham-paham relativisme dan liberalisme dalam agama.
            Sebagai seorang muslim, patutnya hanya kepada syariat suatu permasalahan itu ditimbang dan dipecahkan. Lalu bagaimana pandangan islam mengenai relativisme dan liberalisme agama ?
            Sebelum menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya bila kita mengenal lebih jauh apa itu relativisme dan liberalisme.
            Menurut AM Junaedi[1], Relatif berarti tidak mutlak;nisbi. Sedangkan Isme adalah paham/aliran/ajaran. Jadi relativisme dalam beragama artinya ajaran atau paham yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk relative, hanya ALLAH saja yang mutlak/absolut sehingga pola pikir yang dihasilkan manusia itu bersifat relative dan oleh karena itu manusia tidak boleh memutlakkan pendapatnya.
            Sekejap, mungkin tidak sedikit dari pembaca mengamini kalimat diatas, karena apabila dibaca sepintas saja, kalimat tersebut seperti benar adanya. Namun sejatinya kalimat diatas adalah racun yang pemikiran yang siap untuk meruntuhkan pola berpikir islam kita agar keyakinan kita terhadap islam luntur dengan sendirinya dan bahkan bisa jadi kita bangga menjadi pengusung paham satanis tersebut. Na’udzubillah.
            Paus benedictus XVI pernah mengingatkan bahwa eropa saat ini sedang dalam bahaya besar karena paham relativisme iman yang mendalam.[2]
            Paham relativisme ini tidak hanya berkutat pada masalah mana yang benar dan mana yang salah, akan tetapi jauh lebih daripada itu, pada akhirnya manusia yang menganut paham ini akan bertanya dan berpikir “Apakah kebenaran itu memang ada atau tidak?”, penyebab munculnya pertanyaan tersebut karena ketidakyakinan penganut paham relativisme terhadap agamanya sendiri. Karena kayakinan inti dalam paham ini adalah “Agama saya benar, akan tetapi tidak menutup kemungkinan agama anda juga benar”. Oleh karena itu, penafian[3] terhadap kata-kata seperti kafir, sesat, musyrik dan lain sebagainya sudah sering dipakai oleh para relativis. Menurut mereka, kafir/musyriknya seseorang dikembalikan kepada ALLAH karena hanya ALLAH sajalah yang memiliki kebenaran yang absolut. Padahal, secara ringkas dan jelas, kita bisa membantah hal tersebut dengan mengatakan bahwa ALLAH sudah menurunkan alquran sebagai penjelas dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Memang manusia bersifat relative, namun kerelativan manusia bisa hilang karena merujuk pada sumber yang otentik (alquran) karena dia adalah wahyu Tuhan. Bila dalam alquran dikatakan haram, maka haramlah hal tersebut begitu pula sebaliknya. Keimanan didalam islam sudah otomatis merupakan pengingkaran terhadap kekafiran dan kemusyrikan. Karena tidak mungkin dalam hati seseorang bersarang dualism keyakinan yang bertentangan satu sama lain, yaitu dengan mengatakan “Saya Islam dan saya mempercayai penyaliban Yesus”, membingungkan bukan ?, sama saja halnya dengan seorang atheis yang berkata “Demi Tuhan, Saya Atheis”.
            Kebodohan semacam ini dapat tidak teridentifikasi oleh orang awam terutama mahasiswa-mahasiswa semester awal karena dikemas dengan begitu cantiknya oleh istilah-istilah ilmiah yang pada hakikatnya hanyalah pepesan kosong tak berarti (sampah).
            Toleransi dalam islam tidak memerlukan pengorbanan keyakinan untuk menaikkan derajat rasa toleransi tersebut. Maksudnya, jika didalam islam (alquran khususnya) mengatakan bahwa Isa Al-Masih adalah hamba dan rasulNya, maka walaupun demi nama toleransi umat beragama kita tidak boleh mengatakan hal yang sebaliknya hanya karena untuk menyenangkan hati orang lain. Simak petikan terjemah ayat berikut ini,
            “Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata “Sesungguhnya ALLAH itu dialah Al-Masih putra maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil !, sembahlah ALLAH, Tuhanku dan Tuhanmu”, sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) ALLAH, maka sungguh ALLAH mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah di neraka”.
            Bacalah dengan bijak dan cermat ! pada penggalan ayat diatas ALLAH menegaskan bahwa Isa ibn Maryam bukanlah anak ALLAH, bahkan nabi Isa mengatakan bahwa sembahlah ALLAH dan jangan mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Tidak mungkin, dalam waktu yang sama kita juga menerima pendapat umat kristiani yang meyakini bahwa Isa adalah anak Tuhan. Kemustahilan itu terjadi karena adanya 2 zat/sifat yang bertentangan dalam satu waktu. Disinilah kerancuan pola pikir ajaran relativisme, karena fitrah manusia hanya akan membenarkan satu kebenaran sejati[4] dan dalam waktu yang sama, pasti mengingkari ajaran yang bertentangan dengan kebenaran tersebut.
            Oleh karena itu, alangkah jahilnya apabila ada seorang professor/doctor dalam bidang agama yang mengatakan bahwa bukan hanya islam sajalah sumber kebenaran, akan tetapi islam hanyalah salah satu dari berbagai jalan kebenaran yang hakiki. Maka dari itu, tak heran apabila mereka juga mengatakan bahwa nanti di surga kita akan berdampingan dengan orang yang menganut agama diluar islam. Na’udzubillah.
            Tak hanya relativisme yang populer akhir-akhir ini, namun paham liberalisme pun tak henti-hentinya merobek akidah ismalm dari luar maupun dari dalam. Liberalisme adalah induk dari subpaham seperti relativisme, multikulturalisme, perenialisme dan isme-isme yang lain. Virus ini menyebar lewat perguruan tinggi-perguruan tinggi islam yang seharusnya meluluskan dan mencetak para sarjana muslim yang qur’ani bukan malah mencetak sarjana-sarjana yang ragu dengan kebenaran agamanya sendiri.
            Liberalisme sendiri adalah paham yang menganut kebebasan dalam setiap bidang, baik itu kebebasan beragama, berpendapat maupun kebebasan berijtihad/berpikir. Dalam konteks agama, paham ini memberikan kebebasan tanpa batas kepada manusia untuk menafsirkan kitab suci dan berijtihad semaunya.  Dengan kata lain, penafsiran terhadap kitab suci (khusunya alquran) dapat dilakukan oleh siapapun walau tak memiliki ilmu yang mumpuni dalam bidang itu. Para pengusung paham liberal ini, lebih sering mengutamakan esensi dari teks asalkan tujuannya sama. Contohnya seperti dalam penafsiran tentang kerudung untuk muslimah. Bagi mereka, kerudung hanyalah sebuah benda diantara banyak benda yang dapat menghindarkan wanita muslimah dari gangguan pihak lain. Jadi kerudung hanya dikatakan sebagai penutup kepala bukan sebagai perintah syariat dari ALLAH. Inilah hasil penafsiran esensi yang menggunakan pendekatan hermeneutika[5]. Menurut mereka pula, jika kenyamanan wanita abad sekarang lebih terjamin dibanding dengan abad sebelumnya tanpa kerudung, kenapa tidak untuk melepas kerudung tersebut karena esensi dari penggunaan kerudung adalah menjaga kehormatan dan keselamatan wanita itu. Penganut paham ini pun menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Lebih jauh lagi, mereka mengkritisi tentang ibadah dan muamalah yang sudah final seperti kenapa imam shalat harus laki-laki ?, kenapa shaf wanita harus dibelakang anaknya yang laki-laki ?, kenapa istsri tidak boleh mentalak suaminya jika suaminya berbuat salah (selingkuh) ?. ini beberapa pertanyaan yang sering didengung-dengungkan oleh para aktivis liberal dalam bidang kewanitaan atau yang sering disebut dengan paham feminsime.
            Feminisme lahir dari penindasan kebudayaan rusak zaman eropa kuno. Dalam pandangan eropa kuno, yaitu sekitar abad 17, wanita dipandang sebagai jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia. Itu artinya, pada zaman tersebut wanita belum dikatakan sebagai manusia karena masih diperdebatkan oleh para uskup gereja yang masih meragukan tentang kemanusiaan perempuan. Maka tidak heran apabila pada abad-abad ini terkenal dengan abad kegelapan. Karena betapa jahilnya bangsa barat waktu itu, berbeda dengan bangsa barat, di timur dunia ini ada peradaban yang sudah sangat canggih dan cerdas, mereka sudah menata kehidupan dengan baik dan dibawah naungan kitab ALLAH dan Sunnah RasulNya. Itulah peradaban islam. Tidak pernah ada konflik antara peraturan agama dengan kehidupan sosial masyarakat islam waktu itu, karena memang aturan yang dibawa oleh islam seusai dengan fitrah manusia. Islam bukanlah agama historis, yaitu agama yang terekonstruksi oleh sejarah) karena dari zaman nabi Muhammad sampai hari ini tidak pernah ada perubahan tentang kewajiban shalat, zakat, puasa dan ibadah lainnya. Jadi islam memang sudah final, tidak perlu adanya metodologi pemikiran yang bertentangan dengan islam apalagi berasal dari barat yang bila ditinjau lebih jauh lahir dari pemikiran usang korban sejarah masa lalunya. Dan itu artinya, islam tidak butuh dengan relativisme, pluralisme, kesetaraan gender, perenialisme dan isme-isme sesat lainnya.
            Dalam pandangan islam, kehidupan sejati bukanlah di dunia yang kita singgahi ini, namun kehidupan akhirat yang kekal setelahnya. Apapun yang ALLAH tugaskan dan larangkan dalam alquran adalah jalan keselamatan untuk menggapai ridha ALLAH dan surgaNya. Bukan hanya untuk kesenangan dunia semata.
            Oleh karenanya, islam sebagai agama yang final tidak seperti agama-agama yang lain yang bersifat historis dan akliyyah. Ia bukanlah produk sejarah, karena sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tidak ada perubahan kewajiban dan larangan yang ALLAH berikan dari zaman nabi Muhammad sampai hari ini. Islampun tidak pernah memiliki masalah dengan umatnya terkait kewajiban yang yang diberikan ALLAH terhadap umatnya. Paham-paham seperti liberalisme dan yang lainnya adalah produk dari kebudayaan dan agama diluar islam, maka sungguh naif apabila ada segolongan umat islam yang memaksakan kehendaknya untuk menaturalisasikan paham-paham tersebut kedalam tubuh islam yang kaffah.
            Semoga ALLAH membukakan mata hati kita agar mendapat kebenaran yang diridhaiNya dan menjauhkan kita dari paham yang menyesatkan kita dari jalanNya. Wallahu a’lam.


[1] Kamus Politik Populer
[2] Libertus Johani, Paus Benedictus XVI, Palang Pintu Iman Katolik (Jakarta, hal : 32)
[3] peniadaan
[4] Walaupun harus dicek terlebih dahulu kebenaran tersebut
[5] Pengaburan makna dari teks aslinya
[Read More...]


Hermeneutika dalam pandangan Islam




                     Akhir abad 19 sampai awal abad 20, tidak sedikit perguruan tinggi islam yang berdiri baik yang memiliki visi dan misi islami ataupun yang berpura-pura Islami. Ditinjau dari perkembangannya, perguruan tinggi Islam memang sangat dibutuhkan menjadi alternatif bagi para lulusan SMA yang haus akan ilmu agama, karena sewaktu SMA hanya mendapat mata pelajaran agama 2 jam dalam seminggu. Memprihatinkan memang. Akan tetapi, label “Islam” yang tertera pada perguruan tinggi tersebut tidak serta merta sesuai dengan visi besar islam yaitu yang membawa damai dan sejahtera dengan syariat. Apa alasannya ?, beberapa contoh yang bisa dijadikan cerminan dari makin “anehnya” perguruan tinggi islam ada di IAIN Bandung. Lebih parahnya, kejadian aneh itu terjadi pada fakultas ushuluddin yang seharusnya menjadi dan mencetak dai-dai penyeru keselamatan. Tepatnya pada tanggal 27 september 2004, ketika masa OSPEK pada institusi ini, seorang panitia OSPEK mengatakan “Selamat datang di area bebas tuhan”.
            Hal-hal yang seperti ini terjadi mulai dari mahasiswa fakultas islami sampai kepada para cendekiawan muslim yang silau dengan kemajuan teknologi bangsa barat dewasa ini. Akhirnya, metode-metode yang dipakai barat diterapkan pula di bangsa yang sedang berkembang seperti Indonesia. Sebenarnya, tidak masalah apabila metode yang diterapkan itu baik dan bermanfaat. Namun, metode yang diterapkan di fakultas islam/IAIN adalah racun-racun yang berselimut dalam istilah-istilah yang ilmiah yang pada hakikatnya adalah tipuan dan omong kosong belaka. Salah satu metode yang berbahaya dan sekarang menjadi kesukaan para fakultas ushuluddin atau tafsir quran adalah hermeneutika.
            Apa yang disebut hermeneutika ? darimana asal kata itu bermula ?
Hermeneutika berasal dari nama seorang dewa yunani yaitu Hermes. Hermes adalah dewa yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan titah dari zeus (sebagai dewa diatas dewa) di gunung olympus untuk umat manusia agar ucapan zeus dimengerti oleh manusia pada umumnya. Ketika hermes menyampaikan titah zeus, hermes hanya menyampaikan makna yang terkandung dalam ucapan zeus, jadi apa yang disampaikan bukan kata per kata akan tetapi makna permakna. Metode yang dipakai oleh hermes ini di adopsi oleh bangsa romawi dalam penafsiran injil. Pada zaman romawi kuno, penafsiran injil hanya dilakukan didalam gereja dan hanya diketahui oleh para uskup agung. Ternyata menurut para ilmuwan dan sejarawan, tafsir-tafsir yang dilakukan oleh gereja banyak yang menyimpang karena tidak sesuai dengan kata yang tertera dalam alkitab itu sendiri. Para uskup gereja bukan tidak memiliki alasan menggunakan metode hermeneutika. Para uskup melakukan hal itu karena mereka kehilangan teks asli dari alkitab yang mereka yakini, akhirnya yang mereka lakukan adalah menerjemahkan makna dari kalimat yang tertulis didalam alkitab. Hal ini dilakukan sampai hari ini, bisa kita lihat pembaruan alkitab yang terbit dari tahun 1970-2012, sangat berbeda dalam gaya bahasa dan tulisan kata perkata.
            Sebuah kebodohan apabila hermeneutika diadopsi oleh Islam. Karena kaidah tafsir quran sudah dirumuskan oleh para mufassir yang terjamin keilmuannya tidak seperti para orientalist yang memang belajar islam untuk menghancurkan islam lewat dalam. Hermeneutika bertentangan dengan islam karena hermeneutika adalah tafsir yang menjelaskan teks tanpa dalil, bahkan kebanyakan menjauh/menyimpang dari arti sebenarnya. Karena itulah hermeneutika haram dalam islam.
[Read More...]


ALLAH menggunakan kata ganti “Kami” dalam alquran



            Semenjak berkembang pesatnya penerjemahan alquran kedalam bahasa selain arab, maka semakin mudah  pula orang-orang (baik muslim maupun non muslim) membaca dan memperhatikan isinya. Sebagai wahyu dari ALLAH, alquran tidak serta merta dapat langsung ditelaah ataupun diaplikasikan bila tidak direlasikan dengan ilmu ulumul quran yang mumpuni. Karena ALLAH telah  menjelaskan dalam alquran bahwa didalamnya terdapat ayat muhkamat[1] dan ada pula ayat mutasyabihat[2]. Gaya bahasa yang dimiliki alquran pun sangat berbeda dengan syair maupun sastra arab yang berkembang pada saat alquran diturunkan. Dalam hal ini, ada beberapa golongan yang ragu dan menggugat tentang gaya bahasa yang termaktub dalam  alquran, salah satunya adalah penggunaan kata ganti “Kami” yang digunakan oleh ALLAH ‘azza wa jalla.
            Sebenarnya, pertanyaan yang timbul dari permasalahan ini dapat dijawab dengan sangat mudah oleh muslim awam sekalipun apabila ia menyempatkan waktu untuk belajar tata bahasa arab tingkat dasar. Sebab kata ganti “Kami” dalam bahasa arab memiliki beberapa makna tergantung subyek yang mengucapkannya. Makna yang pertama adalah penggunaan untuk jamak (bermakna banyak), makna ini bisa diaplikasikan apabila yang berucap adalah makhluk. Sebagai contoh, perhatikan kalimat dibawah  ini,

Kami sedang bermain bola”

            Pada kalimat diatas, sudah  jelas penggunaan kata “Kami “ adalah  bermakna jamak (banyak). Alasannya adalah karena perkataan tersebut bukanlah wahyu dengan kata lain ucapan tersebut adalah perkataan makhluk. Oleh karenanya, dapat dipastikan bahwa kata ganti “Kami” pada kalimat diatas bermakna jamak (banyak).
            Makna yang kedua pada penggunaan kata ganti “Kami” adalah untuk Mu’azhim Nafsah (Mengagungkan diri). Inilah kata ganti yang sering ALLAH pergunakan dalam alquran untuk mengganti namaNya yang agung. Apa bukti dari pernyataan tersebut ? berikut adalah beberapa contoh dalam alquran terkait dengan hal ini, misalnya dalam surat Al-Qadr :1 ALLAH berfirman

            “Sesungguhnya telah Kami turunkan alquran pada malam al qadr”

            Perhatikan  terjemahan ayat diatas, penggunaan kata ganti “Kami” bukanlah bermaksud untuk menyatakan makna banyak karena yang menjadi pelaku bukanlah makhluk melainkan sang Khalik (pencipta). Andaikata penggunaan kata ganti “Kami” pada ayat diatas bermakna jamak (banyak) maka akan bertentangan dengan surat Al-Ikhlash :1

            “Katakanlah (hai Muammad) : Dialah ALLAH yang maha satu”
           
            Tidak  mungkin /mustahil ada ayat alquran  yang kontradiktif satu sama lain. Oleh karena itu pilihan makna jamak dalam ayat diatas gugur, karena menyalahi/bertentangan dengan ayat (nash) lain. Alasan selanjutnya , ayat diatas adalah wahyu yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW dan telah menjadi kesepakatan baik ulama salaf (terdahulu) dan ulama khalaf (kontemporer) dalam hal tersebut. Tidak ada perbedaan pendapat diantara para ahli qurro’ dan ahli nahwu sharaf.
            Semoga penjelasan diatas bermanfaat bagi orang yang masih ragu dengan agamanya dan menjadi jawaban bagi orang yang mencari kebenaran. Wallahu a’lam.


[1] ayat  yang mudah difahami kandungannya baik perintah maupun larangan
[2] ayat yang memiliki maksud global dan butuh penjelasan dari sumber lain untuk menjelaskan maksud ayat tersebut
[Read More...]


Tafsir Ibnu Mas'ud Ash Shaff ayat 6



“Dan ketika isa bin maryam bersabda : Wahai bani israil, sesungguhnya aku adalah utusan ALLAH kepada kalian membenarkan kitab-kitab sebelumku berupa taurat dan memberi kabar gembira dengan datangnya rasul setelahku bernama Ahmad (Muhammad), maka tatkala datang kepada mereka bukti yang nyata mereka berkata ini adalah sihir yang nyata.”
                Imam ahmad ibn hanbal meriwayatkan dalam al musnad 6 : 185-186, Ibnu mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengirim kami untuk menemui raja najasyi, ketika itu kami berjumlah 80 orang. Diantara kami adalah ibnu mas’ud, ja’far ibn abu thalib, ‘abdullah ibn ‘arfathah, usman ibn mazh’un dan abu musa, lalu mereka menghadap raja najasyi. Dipihak quraisy, datang pula 2 orang pembesar bernama amru bin ;ash dan umarah bin al walid. Mereka berdua sujud kepada raja najasyi sedangkan para para sahabat tidak melakukan hal itu. ‘Amru ibn ‘ash membuka pembicaraan dengan menyanjung raja dan dilanjutkan dengan mengejek para sahabat karena mereka tidak mau bersujud kepada raja. Seketika itu pun raja bertanya kepada para sahabat, “Kenapa kalian tidak bersujud kepadaku ?”. Para sahabat  yang diwakili oleh Ja’far ibn abu thalib angkat bicara “Kami tidak mau bersujud kecuali kepada ALLAH ‘azza wa jalla”. Kemudian ‘amru bin ‘ash berkata lagi “Sesungguhnya mereka berselisih tentang Isa bin maryam dengan mu wahai raja”. Raja pun bertanya lagi perihal hal tersebut. Namun, dengan cerdas Ja’far menjawab “Aku akan bercerita tentang Isa bin Maryam sesuai dengan apa yang termaktub dalam alquran. Isa bin maryam adalah manusia pilihan ALLAH yang ditiupkan ruhnya kedalam wanita yang suci yang tak pernah tersentuh oleh lelaki manapun. Dia adalah ruh ALLAH, rasulNya dan kalimatNya”. Seketika itu pun raja menangis sampai basah jenggotnya. Para pendeta yang ada disamping raja pun ikut tercengang mendengar penuturan para sahabat yang dipimpin oleh Ja’far. Raja mengambil lidi sambil berkata “sungguh, agama yang kau yakini dengan agamaku tidak berbeda kecuali sebesar lidi ini. Sekarang kalian aman di negeriku dan tak ada yang bisa mengganggu kalian disini dan kalian ( ‘amru bin ‘ash dan umarah bin al walid ) pergi dan pulanglah, sungguh aku takkan pernah memberikan mereka kepada kalian selamanya.”  (Tafsir Ibnu Mas'ud dengan sedikit penyesuaian).
[Read More...]


Return to top of page Copyright © 2013 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by DiazTheHunterz